Musik Tradisional Sulawesi: Harta Karun dari Pulau Celebes

Oleh: Iwan Paul (2012)

Beranekaragamnya kebudayaan dan suku bangsa yang ada di Indonesia tentunya melahirkan khazanah musik tradisi yang sangat kaya. Sulawesi saja—sebagai salah satu dari lima pulau terbesar di Indonesia—memiliki tidak kurang dari 40 etnis dengan kebudayaan dan adat istiadatnya masing-masing. Dari begitu banyak suku bangsa itu juga lahir dan berkembang musik-musik tradisi dengan ciri khas dan karakternya masing-masing. Berikut ini adalah uraian tentang empat musik tradisional yang berasal dari Sulawesi. Deskripsi ini tentunya tidak dapat mewakili semua jenis musik tradisi yang ada, namun diharapkan dapat memberikan sekilas gambaran tentang kekayaan musik tradisi di pulau yang dulu lebih dikenal sebagai Celebes itu.

Dado Rumba dari Sulawesi Tenggara

Dado Rumba adalah salah satu bentuk musik tradisi Sulawesi Tenggara yang dinyanyikan dan dimainkan dengan alat-alat musik tradisional seperti: dodoraba (alat musik gesek seperti rebab yang dimainkan sambil duduk), gambus (alat musik petik seperti gitar atau mandolin), gamba-gamba (sejenis xylophone, bisa terbuat dari kayu atau bambu)[1], perkusi batang bambu yang dibelah mengikuti panjang sebagian bambu yang disebut juga bamboo buzzer,[2] dan lain-lain.

Contoh rekaman musik Dado Rumba di CD Discover Indonesia ini memainkan lagu yang berjudul Tampo, sebuah lagu rakyat yang berasal dari Pulau Muna—yang dulu merupakan bagian dari Kabupaten Buton, namun sekarang telah menjadi kabupaten sendiri—di propinsi Sulawesi Tenggara. Lagu ini bercerita tentang keindahan Witeno Muna dengan lirik sebagai berikut:

O tampo Napabalano
Newatumo witeno kalentehaku
Noponogho barakati nekakawasa
Sampe mate tampo mina limpuhanea (2x)

Hintumo basitie mosi mosirahaku
Dosesemana soekaetahano liwunto ini

Witeno wuna ntiarasi
tampo mina limpuhanea
Newatumu kalembohano reaku (2x)

Lagu yang menggunakan nada diatonis ini memiliki bagian-bagian dengan form yang terstruktur dengan rapi: Intro-A-A-Bridge-B-B, seperti yang umum kita dapati pada lagu-lagu pop modern Barat—A  sebagai verse dan B sebagai chorus/reffrein. Lagu ini juga dimainkan dengan harmoni progresi kord yang paling umum dan mudah dicerna yaitu Perfect cadence (I-V-I) dan Plagal cadence (I-IV-I). Berikut adalah notasi lagu di bagian A:

Vokalnya dinyanyikan oleh beberapa penyanyi perempuan dan laki-laki secara bersamaan dengan beberapa cengkok pengambilan nada seperti yang banyak ditemukan di musik khas Melayu. Contohnya adalah penggunaan appogiatura sebagai embelishment yang dapat dilihat pada notasi di atas.

Melodi utama vokal ini diikuti oleh dodoraba (biola/rebab) secara unison. Sementara gambus yang mengiringi, bersama-sama dengan gamba-gamba (xylophone) yang memainkan pola ritmik bertautan, serta beberapa bamboo buzzer yang memainkan ketukan ¼ dengan aksen di 1 dan 3, membuat lagu ini berkesan sangat riang dan cukup meriah (festive). Secara umum lagu ini terdengar seperti musik khas di daerah-daerah pesisir kepulauan tropis seperti di Karibia atau Pasifik.

Jika dianalisis lebih jauh, musik ini dapat dikatakan sebagai percampuran antara budaya musik pop Barat yang cukup kuat (dengan form dan progresi kord maupun pilihan nada diatonis yang tersusun dengan rapi) dan elemen-elemen musik Timur (yang diwakili dengan alat musik seperti rebab dan gambus, serta cengkok nyanyian ala Melayu). Kemungkinan ciri musik Arab dan Melayu ini datang bersamaan dengan masuknya pengaruh Islam ke daerah yang mayoritas penduduknya muslim tersebut. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa orang-orang Buton adalah kaum perantau yang sudah melanglang buana hingga ke wilayah Sumatera dan Jawa.

Sumber:

Gambusu dari Sulawesi Tenggara

Gambus adalah alat musik berdawai seperti mandolin yang berasal dari Timur Tengah. Jauh sejak sebelum abad ke-20 instrumen ini beserta musiknya telah ikut menyebar bersama dengan ajaran agama Islam ke negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri musik gambus kemudian diadaptasi ke dalam budaya lokal oleh sebagian masyarakat di Sumatera, Jawa, Madura, Sulawesi, dan Kalimantan.

Di Sulawesi berkembang jenis musik tradisi yang disebut Gambusu. Di salah satu sumber dikatakan bahwa istilah “Gambusu” mengacu tidak hanya pada alatnya saja, tapi juga pada kegiatan memainkan musik Gambus. Sementara di sumber lain disebutkan bahwa Gambusu adalah musik yang banyak dimainkan di tengah/pedalaman pulau—dengan ciri permainan yang lebih kompleks, berbeda dengan Gambus yang berkembang di wilayah pesisir yang dari segi permainannya lebih sederhana.

Salah satu permainan musik Gambusu seperti yang ada di CD Discover Indonesia, berasal dari pedalaman Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Di lagu itu gambusu menjadi alat musik utama sekaligus pengiring vokal yang dinyanyikan oleh pemain alat musik petik itu sendiri. Lirik lagunya sendiri berkisah tentang keindahan alam, cerita rakyat, maupun percintaan.

Berikut ini adalah notasi dari lagu yang dinyanyikan, yang berjudul Kakesano Korang-korang, dari Tonia, Pulau Muna:

Meski tidak mengikuti tuning system 440 yang sempurna seperti layaknya musik klasik atau pop Barat, namun pilihan nada yang digunakan di musik ini masih bisa dikatakan sebagai diatonis walaupun dimainkan dengan lebih bebas.

Intro dari lagu merupakan permainan solo improvisasi bebas dari alat musik berdawai empat pasang yang memainkan tangga nada Harmonic Minor V atau Phrygian Dominant dari Db:

Db – D – F – Gb – Ab – A – B

Setelah itu mulai dimainkan riff dengan pola ritmik seperti musik blue-grass Amerika yang bertempo medium ke cepat, disusul dengan nyanyian vokal. Pada bagian ini lagu sudah berpindah ke key lain yaitu Bb dengan pilihan nada pada scale D Phrygian.

Lagu ini hanya memiliki satu bagian—yang terdiri dari tiga kalimat musik utama/vokal—yang diulang beberapa kali. Pada tiap kalimat musik vokal, gambusu mengikuti sebagian nada-nadanya dengan berbagai variasi ritmik. Di antara setiap pengulangan form, serta jeda antara kalimat musik vokal, dimainkan sedikit improvisasi gambusu. Vokal Gambusu ini juga dinyanyikan dengan menggunakan banyak embelishment seperti appoggiatura dan slide.

Sekilas musik ini terdengar tidak jauh berbeda dengan musik Gambus maupun permainan alat musik (gitar) oud yang berasal dari Timur Tengah, terutama di bagian intronya. Memang, musik Gambus yang menyebar dan berkembang di berbagai wilayah di Asia Tenggara tidak banyak menyimpang dari bentuk musik asalnya. Namun setelah memasuki bagian vokal di situ mulai terasa karakter yang kuat dari musik Gambusu Sulawesi ini dengan pilihan nada yang khas, ditambah lagi karena lagu ini menggunakan bahasa daerah Muna.

Sumber:

Kesok-kesok dari Sulawesi Selatan

Kesok-kesok adalah nama instrumen gesek berdawai satu dari Sulawesi Selatan yang dimainkan secara vertikal sambil duduk oleh satu orang sambil bernyanyi atau bertutur.[3] Menurut Ensiklopedi Musik Indonesia dan salah satu referensi lainnya, kesok-kesok bisa jadi merupakan instrumen tertua dan paling sederhana (primitif) di Sulawesi.

Alat musik ini biasa digunakan dalam salah satu tradisi seni khas Sulawesi yang disebut sinrilik. Pemainnya biasa disebut sebagai pasinrilik. Di masa awal kelahirannya sekitar abad ke-15, sinrilik biasa digunakan sebagai penyampai pesan raja dari istana. Di masa-masa berikutnya sinrilik mulai menyajikan kisah epik seputar hikayat dan legenda[4] yang dinyanyikan semalam suntuk. Cerita sinrilik tersusun secara puitis, yang didalamnya disisipkan humor dan kritik sosial. Kesenian ini dimainkan secara spontan dan terbuka kemungkinan bagi penonton untuk berkomentar, sehingga ada unsur interaktif dan improvisasi dalam penuturannya.

Musik kesok-kesok ini sendiri sangat sederhana. Biasanya nada-nada yang dimainkan hanya berputar-putar secara bebas di empat atau lima nada tanpa oktaf. Berikut ini adalah contoh transkripsi bebas kalimat musik dari nyanyian dan permainan kesok-kesok dari CD Discover Indonesia:

Bentuk kalimat-kalimat musik kesok-kesok ini sangat mirip dengan Gregorian Chant di abad pertengahan, khususnya yang berbentuk liturgical recitative. Termasuk penggunaan empat nada utama tetrachord-nya yang dimainkan secara bebas tanpa ketukan maupun birama, mengikuti penuturan cerita.

Untuk lagu kesok-kesok di rekaman ini, nada yang digunakan hanya berputar-putar di:

(F#) – G – A – B – C

Dengan tonik di G, secara tension bow dapat didengar perpindahan nadanya hanya melulu bergerak di harmoni Subdominant ii yang kemudian di-resolve ke Tonik I. Kalimat musik biasa dimulai dari ii atau A. F# digunakan hanya sebagai leading note sebelum ke tonik G.

Tidak diketahui dengan pasti apakah pengaruh Gregorian Chant ini berasal dari misionaris agama Kristen/Katolik yang datang di Sulawesi Selatan atau tidak. Karena, saat Portugis dan Belanda tiba di wilayah itu pada abad ke-16, ajaran agama Islam sudah berkembang cukup kuat di sana. Namun menurut salah satu sumber dikatakan bahwa, bagaimanapun, pengaruh Barat dan Kristen terlihat cukup signifikan di Toraja dan area dataran tinggi.

Sumber:

Lalove dari Sulawesi Tengah

Lalove—atau yang CD Discover Indonesia disebut lalowe—adalah alat musik aerophone asal Sulawesi Tengah yang berbentuk seperti suling panjang yang ditiup secara vertikal. Alat ini terbuat dari buluh bambu atau rotan sepanjang sekitar satu meter.

Permainan lalove adalah salah satu bagian penting bagi kehidupan masyarakat Kaili di Kabupaten Donggala dan Poso, Sulawesi Tengah. Sebelum agama Islam masuk pada abad ke-17, masyarakat Kaili menganut kepercayaan Balia, yang memuja dewa-dewa dan roh nenek moyang. Lalove adalah musik yang dimainkan dalam upacara penyembuhan Balia yang biasa dilakukan semalam suntuk, bahkan hingga hari terang. Tujuannya adalah untuk memanggil roh yang menyebabkan penyakit orang yang sedang sakit, dan mengembalikannya ke alam.

Pada awalnya lalove tidak boleh sembarangan dimainkan, karena bagi orang yang biasa kerasukan roh jika mendengar suara lalove mereka akan dengan mudah kerasukan. Dalam upacara penyembuhan, nada atau irama yang salah dalam permainan lalove juga akan menyebabkan penari yang sudah kerasukan marah dan mengamuk.

Keyakinan masyarakat Kaili saat ini adalah penggabungan antara ajaran Islam dan animisme, meskipun sejalan dengan modernisasi, kepercayaan ini sudah semakin menurun. Kini lalove sudah dipelajari dan dimainkan hanya sebagai seni musik maupun pengiring tari tradisional kreasi baru dan sebatas hanya untuk hiburan tanpa unsur kesakralan lagi. Selain jumlahnya sedikit, pemain lalove yang kebanyakan sudah tua juga kesulitan untuk mencari penerus karena anak muda Kaili lebih tertarik dengan musik modern ala pop Barat.

Rekaman lalove yang terdapat di CD Discover Indonesia berjudul Kobi Popasolo, yang dimainkan oleh Sila dari Mpanau, Kecamatan Biromori, Sulawesi Tengah. Musik ini merupakan permainan tunggal suling yang menggunakan mode 6 nada pertama Ionian b6 tanpa oktaf dari tonik Db:

Db – Eb – F – Gb – Ab – Bbb (atau A)

Ab dan A hanya dimainkan sebentar di awal, sementara sisanya lebih banyak mengulang-ulang empat nada pertama, dengan Ab sebagai overtone dari Db yang muncul sesekali. Berikut ini adalah contoh transkripsi bebas dari rekaman lagu tersebut:

Mirip dengan Kesok-kesok dari Sulawesi Selatan, musik lalove berisi kalimat-kalimat musik dengan tension bow di harmoni Sub Dominant ii dan Tonik I secara bebas, tanpa ketukan maupun birama. Nada-nada panjang dimainkan dengan kalimat-kalimat musik yang sambung menyambung tanpa henti. Sulit membayangkan kapan pemain lalove ini menarik napas karena musiknya mengalun terus tanpa jeda. Dalam teknik alat musik tiup modern sepertinya ini yang disebut circular breath. Bisa jadi itu sebabnya dikatakan bahwa untuk memainkan instrumen tiup ini dibutuhkan teknik yang cukup sulit.

Sumber:

Penutup

Berbeda dengan musik tradisi yang banyak berkembang di wilayah Barat Indonesia seperti di Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali, ada beberapa hal yang menjadi ciri khas dari musik tradisi Sulawesi:

  1. Masih kuatnya budaya bertutur secara spontan oleh para seniman yang dilakukan sambil bermain musik. Musik menjadi media untuk bercerita maupun menyampaikan pesan tertentu, seperti pada Kesok-kesok (Sulawesi Selatan) maupun Dadendate (Sulawesi Tengah).
  2. Musik sering menjadi bagian dari upacara adat yang bernilai sakral, seperti pada Lalove (Sulawesi Tengah), serta Suling Dengkong-dengkong dan Kelong Sagala (Sulawesi Selatan)
  3. Kisah-kisah seputar legenda maupun cerita rakyat yang diteruskan secara turun temurun masih banyak menjadi tema utama dari teks yang dinyanyikan; berbeda dengan musik tradisi maupun modern pada umumnya yang biasanya hanya bertemakan keseharian hidup.

Uraian di atas menunjukkan betapa beragamnya kekayaan seni budaya Indonesia. Bahkan hanya di Pulau Sulawesi sendiri, meski dari satu daerah ke daerah yang lain banyak memiliki kesamaan jenis instrumen, namun musiknya sendiri bisa memiliki karakter dan ciri khasnya masing-masing. Semuanya lahir dan berkembang dari perbedaan geografis, keanekaragaman etnis, serta perjalanan panjang sejarah Sulawesi—dari kolonialisasi Portugis, Belanda, hingga masuknya misionaris dan ajaran-ajaran agama Kristen, Katolik, dan Islam—yang berbeda-beda di masing-masing wilayahnya.

Tidak dapat dibayangkan betapa besarnya proyek maupun buku yang harus dibuat untuk merangkum semua musik tradisi yang ada di Indonesia secara mendalam, beserta sejarah dan latar belakangnya masing-masing. Karena, bisa jadi, Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman musik tradisi yang paling kaya dari seluruh negara di dunia.

Jakarta, 15 April 2012

Makalah ditulis untuk tugas kelas Musik Tradisional

Ponpin Extension Program


[1] Di Sulawesi terdapat begitu banyak variasi dari alat musik yang berbentuk seperti xylophone beserta sebutannya masing-masing yang berbeda di tiap daerah: kolintang dari Sulawesi Utara; kalo kalado (Kendari), latou-tou (Kendari), matotou (Muna), paka-paka (Muna), dan ndengi-ndengi (Moronene) dari Sulawesi Tenggara; taning-taning (Makasar) dari Sulawesi Selatan. Banyaknya varian dan sebutan dari alat musik ini sering menyebabkan kerancuan atau tertukarnya nama alat tersebut dari satu daerah ke daerah lain. Contohnya, di salah satu makalah penelitian disebutkan bahwa gamba-gamba adalah nama alat musik yang berasal dari Sulawesi Tengah, bukan Sulawesi Tenggara.

[2] Bamboo buzzer juga memiliki berbagai varian dan istilahnya di masing-masing daerah di Sulawesi, yaitu palo-palo atau popalo atau nere di Gorontalo, pare’e di Kaili, poree di Kulawi, dongga di Toraja, lae-lae dan sea-sea di Sulawesi Selatan, dan lain-lain. Untuk daerah Sulawesi Tenggara justru tidak ditemukan referensi yang menyebutkan nama dari bamboo buzzer ini.

[3] Instrumen ini juga terdapat di Donggala dan Poso di Sulawesi Tengah dengan nama geso-geso. Di Sulawesi Selatan, Toraja, dinamakan pa’geso’geso atau oleh orang Bugis disebut kesok-kesok.

[4] Dari beberapa dokumentasi ditemukan beberapa naskah transkripsi sinrilik dari jaman kolonialisasi Belanda yang berkisah mengenai legenda dengan cerita yang memunculkan rasa permusuhan antara dua masyarakat, yaitu Gowa (Makassar) dan Bone (Bugis). Diasumsikan bahwa ini adalah bagian dari usaha devide et impera Belanda untuk memecah belah penduduk lokal di tanah jajahannya. Legenda itu bahkan masih dibawakan di abad modern ini dan ikut melestarikan perang dingin antar kedua etnis di Sulawesi Selatan yang kadang memanas di masa-masa tertentu seperti saat pemilihan kepala daerah. Hal ini disadari oleh beberapa seniman sinrilik yang kemudian membuat kisah-kisah tandingan tentang usaha devide et impera Belanda atas masyarakat Sulawesi, untuk mengembalikan kedamaian di antara kedua masyarakat etnis tersebut. Seniman sinrilik juga kemudian lebih banyak menuturkan cerita-cerita sebagai sarana untuk menyampaikan kritik maupun petuah-petuah kebajikan.

2 thoughts on “Musik Tradisional Sulawesi: Harta Karun dari Pulau Celebes

  1. Makasih ulasannya! Saya jadi tahu banyak tentang musik tradisi di Sultra krn masih jarang sekali datanya.
    Kalo boleh tahu, di mana bisa dpt/beli cd Discover Indonesia?

    • Halo, terima kasih atas apresiasinya. CD Discover Indonesia bisa dibeli kok. Google aja. Atau kalau mau saya bisa kirim sebagian mp3 yg saya punya, tapi gak lengkap.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s